Apa yang Kita Sebut Nyata?
Tulisan contoh untuk menguji tampilan blog. Akan diganti tulisan penulis.
Setiap pagi kita membuka mata dan dunia sudah ada di sana, utuh, seolah tidak pernah perlu dipertanyakan.
Padahal mata manusia hanya menangkap rentang cahaya yang sangat sempit. Di luar rentang itu ada cahaya yang tidak pernah kita lihat, bunyi yang tidak pernah kita dengar, dan gerak yang terlalu kecil atau terlalu lambat untuk kita sadari. Apa yang kita sebut "dunia" sebagian besar adalah dunia yang sudah disaring oleh indra.
Indra adalah jendela, bukan tembok
Kesadaran akan batas indra tidak harus membuat kita curiga pada segala hal. Justru sebaliknya: ia mengajak kita rendah hati. Jendela tetap jendela, berguna dan dapat dipercaya, selama kita ingat bahwa ia tidak menunjukkan seluruh rumah.
Yang terlihat bukan satu-satunya yang ada. Tetapi yang terlihat tetap pintu masuk yang jujur.
Sains lahir dari kerendahan hati semacam ini. Alat ukur, teleskop, dan mikroskop adalah cara manusia memperpanjang jendelanya, sambil tetap mencatat di mana batas pengamatan berakhir.
Pertanyaan yang tetap terbuka
Ketika pengetahuan bertambah, satu pertanyaan justru semakin tajam: jika yang kita lihat hanyalah sebagian, bagaimana kita sebaiknya hidup bersama bagian yang belum terlihat?
Sebagian orang menjawabnya dengan teori, sebagian dengan perenungan. Tulisan ini tidak hendak memilih salah satu. Ia hanya mengajak berhenti sejenak dan bertanya dengan jujur sebelum terburu-buru menjawab.